Kamis, 15 Maret 2012

Bahaya Kurang Vitamin D pada Wanita Usia Lanjut

KOMPAS.com - Defisiensi vitamin D pada orang berusia lanjut ternyata tidak hanya memicu risiko keropos tulang atau osteoporosis. Sebuah riset terbaru mengindikasikan, kekurangan vitamin D pada wanita berusia lanjut memiliki hubungan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Dalam risetnya, Dr Stefan Pilz, ilmuwan dari Medical University of Graz Austria melibatkan hampir 1.000 penghuni panti jompo wanita berusia rata-rata hampir 84 tahun.
Hasil analisis menemukan, sebanyak 284 (30 persen) wanita berusia lanjut ini meninggal setelah dipantau perkembangannya selama hampir 27 bulan. Para peneliti juga menemukan, sebanyak 93 persen wanita memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah dari yang direkomendasikan.

"Temuan kami menunjukkan, sebagian besar penghuni panti jompo mengalami kekurangan vitamin D dan mereka yang kadar vitamin D dalam darahnya rendah memiliki resiko kematian lebih tinggi," kata Pilz yang penelitiannya akan dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolismeedisi April.

"Kondisi ini menuntut kita agar segera melakukan upaya pencegahan dan mengobati mereka yang kekurangan vitamin D," tambahnya.

Seperti diketahui, kekurangan vitamin D adalah faktor risiko utama terkait masalah tulang. Sebuah rekomendasi menganjurkan agar seseorang memenuhi kebutuhan vitamin D sebanyak 400-800 IU (International Unit) per harinya.

"Pemberian suplemen vitamin D pada pasien ini dapat memberikan manfaat yang signifikan pada hasil klinis seperti mencegah terjadinya patah tulang," kata Pilz. 

"Berdasarkan temuan ini dan literatur yang ada tentang efek buruk dari kekurangan vitamin D, maka pemenuhan vitamin D menjadi suatu kebutuhan yang mendesak dan harus ada strategi yang efektif untuk meningkatkan status vitamin D pada pasien yang lebih tua," jelasnya.

Pliz menekankan bahwa meskipun temuan ini memperlihatkan adanya hubungan antara kekurangan vitamin D dan peningkatan risiko kematian pada wanita berusia lanjut di panti jompo, tetapi hal tersebut tidak serta merta menjelaskan hubungan sebab-akibat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar